Kenalan


Mendorong jarum jam satu putaran penuh dari angka 7 ke 7, membuatnya tahu betul pekerjaan di bagian Hubungan Masyarakat (Public Relations) di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang mengorbitkan menteri saat itu, Ir. Jero Wacik S.E. mampu terus bertahan untuk dua periode. Terkadang jam tambahan dia jalani di berbagai high-profile events terkait pekerjaan. Tidak terlalu banyak sisa hari-harinya untuk diri sendiri sampai dirasakannya bahwa cukup adalah cukup. Dengan izin Sekretaris Jenderal menjadikannya anak didik, Anggun Nugraha, yang lahir di Bandung, Agusutus tahun 1973, akhirnya pergi meneruskan pendidikannya, separuh di Jakarta, separuh di Kedah, Malaysia.

Kecintaannya dalam mengeksplorasi sebuah kota, dan menghilang di suatu tourist trap sudah sejak tahun 1990 dengan Labuan Bajo dan Pulau Weh sebagai local favoritnya dan Penang di negara tetangga.

Pengalamannya traveling banyak diukir di Tallahassee, Florida. Sungguh bukan kesengajaan, bahwa kota tersebut begitu membosankan bagi dirinya. Sehingga hampir tiap minggu, ia menyinggahi kota lain di pesisir Amerika Timur, mulai dari Key West, Miami, Orlando, hingga New York City sampai ke Toronto, Ottawa, dan Quebec.

Disadari mobil 1,100 cc-nya tak akan bertahan, ia beli dengan uang $2,000 sisa menabung hasil memasak dan mengantar makanan di restoran China dan Thailand untuk memacu Honda Prelude yang sedikit berandalan untuk jalur Interstate-75, Interstate-10, dan sekitarnya. Hal itu terulang saat di Malaysia, saat dia stuck di suatu pojok hutan asramanya, Bukit Kachi, Kedah. Tak salah lagi, Penang menjadi resort-nya, tempat ia mencari hidup dan kecintaannya.

Berbagai penjelajahan hidup, baik perjalanan wisata dan perjalanan kerohanian, memenuhi hingga jauh di luar batas kemampuannya. Pengalamannya sebagai individu, tak banyak yang mampu menjalaninya. Korban pun berjatuhan kecuali orang-orang yang dicintainya. Ia pertahankan hingga kini, dekat dalam sanubari. Tapi ia tak khawatir barang sedikit pun. Karena baginya, siapa yang datang dan pergi seperti para kawannya selama backpacking, selalu berganti.

Cerita dan derita perjalanannya, terutama mereka yang menunggu di Bandung, tempat ia menambatkan hatinya, berlanjut dengan perjalanan karirnya di tempat semula. Namanya telah dirobah menjadi Kementerian  Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sayangnya, ia tak tertarik mengikuti jejak kawannya yang menjanjikan kemapanan dan kesejahteraan. Ia ambil jalan yang tak setiap orang ambil. Ia terus berpetualang. Sesekali merumput sebagai konsultan pariwisata, ia terus menulis, dan berbagi, pekerjaan yang telah ia lakukan hampir sepuluh tahun terakhir. Tanpa nama, tanpa judul, tanpa recognition, tanpa pamrih.