Saturday, October 5, 2013

Danau Situ Cileunca, Pangalengan

Ratusan taman kota di Bandung, tapi rasanya masih kurang pas bila disebut sebagai ruang terbuka. Yang benar-benar ruang bersosialisasi dan nyaman untuk rekreasi masih sangat jarang. Jadi, Aku meluncur ke atas gunung di Bandung Selatan. Cileunca.

Ayahku saat itu baru kelas 6 SD. Ia berdiri bersama kakek di atas sebuah platform bendungan yang sangat serupa dengan pintu air di Situ Cileunca, Pangalengan. Tak salah lagi. Memang di titik itulah Ayahku berfoto dahulu kala, dan hingga hari ini, pintu air itu masih berdiri sebagai saksi bisu bahwa Ayahku yang kini sudah berusia 66 tahun sempat mengagumi ketenangan air bendungan Situ Cileunca.

Kini, Cileunca yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Bandung ke arah kota kecil yang  bernama Pangalengan, Desa Warnasari, telah banyak berkembang, berbeda dengan puluhan tahun silam. Tahun 1918 adalah awal dari cerita danau ini.

Dulu kawasan ini adalah hutan belantara di ketinggian 1.400 meter, 700 meter lebih tinggi dari Kota Bandung sendiri. Tentu udara di ketinggian ini serasa berada di ruang ber-AC tapi tak begitu menusuk tulang.

Hamparan rumputnya memang menggoda anak-anak balita untuk berlari-lari gembira, sarat canda riang. Bukan hanya anak balita yang akan larut dalam hijaunya hamparan rumput, para pengunjung dewasa pun ingin berleha-leha santai di atas rumputnya, di bawah teduhnya pohon yang masih cukup banyak dan rindang.

Luasnya mungkin tak lebih dari 2 hektar saja, tapi kombinasi lahan terbuka, bibir pantai danau Situ Cileunca, warung-warung makan yang teduh dan tempat bermain serta fasilitas lain seperti WC umum, ruang bilas, dan rafting and outbound services bisa menjadi keasyikan lengkap buat keluarga.

Dari Bandung, Aku beranjak pukul 8.00 pagi dan sampai di tempat pukul 10.00 dalam kondisi lancar dan hari Sabtu. Santainya kalau pergi lebih pagi, melaju melalui tol Pasteur dan keluar melalui pintu tol Kopo/ Soreang dan menyusuri jalan ke arah Pangalengan, atau dari pintu Moh. Toha ke arah Pangalengan. Jalan akan melalui lika-liku jalur perbukitan dengan pemandangan memukau. Anakku sih sempet pusing karena jalan yang berkelok. Aku buka kaca jendela mobil agar udara sejuk segar menembus ruang mobil yang tertutup.

Berbagai operator rafting dan paint ball nampak mempromosikan dirinya dengan papan namanya. Mereka pun nampak mengeringkan raft dan vest juga helmet bekas dipakai rafting. Besa sudut, beda operator.

Masuklah lewat pintu gerbang utama dan membayar tiket masuk mobil sebesar Rp 3.000 dan perorangannya sekitar Rp 2.500 dan Rp 1.500 untuk motor. Bis pun leluasa masuk dengan tarif parkir yang tidak begitu mahal.

Bawa jaket atau sweater untuk anak kita bila datang bersama keluarga, karena di atas pukul 14.00, udara akan terasa sejuk dengan suhu udara kira-kira 20 derajat atau lebih dingin lagi bila malam datang.

No comments:

Post a Comment

Please feel free to update my article since things are changing very quickly.
Silakan kirimkan update dari Anda untuk meningkatkan kualitas info di blog ini.

Trims
angke