Wednesday, October 9, 2013

Berjuang Dalam Penantian Panjang, Terminal 2F Soekarno Hatta

Rawa-rawa menjadi runway. Ladang gambut kini terang benderang. Kehabisan lahan, pengelola membuat jalan 2 tingkat. Manusia terbang. Pisau lipat terdeteksi x-ray, dan penumpang semua merasa aman. Itulah kekuatan manusia dalam menghadapi alam. Selamat datang di airport internasional, Soekarno Hatta.

Tapi sekuat apa kita bila penerbangan masih 6 jam dan Anda sudah melewati pintu otomatis Terminal 2F? Bila tujuan Anda memang seperti Saya yakni ke Timika untuk menikmati face-to-face interaction dengan Suku Asmat, mungkin mental sudah sedikit terbangun. Tapi tetap, bosan adalah musuh yang paling sulit dihadapi. Seperkasa apapun Anda, bosan bisa membuat Anda terjun ke sebuah kegiatan yang konyol, seperti karaoke misalnya; mendengarkan suara pas-pasan Anda sendiri. Dengan MP3 handphone pula!

Beberapa kali terbang, mungkin bisa sharing buat yang sudah tapi belum sering (terjebak waktu tunggu), atau yang baru bertualang.

Ini yang harus kita siapkan dalam penantian dan perjalanan dengan pesawat:

1. Biasakan makan fastfood.
Ya ya. Karena kita penulis perjalanan, seolah-olah isi tulisan kita adalah apa yang terjadi di setiap langkah kehidupan kita. Salah besar! Kami tidak selalu makan makanan eksotis seperti Lempah Kuning, Mie Koba, Soami, Ikan Bakar, Sotong Pangkung, atau Steak Daging Rusa. Oh, tidak. Nongkrong lah kita juga di Baso Malang, KFC, Solaria, A&W, bahkan Roti Boy versi airport. Perut tak boleh kosong bila jalan (baca: terbang) jauh.

2. Pesan lagi.
Betul. Harga apapun di airport bisa dua kali lipat semua merk di warung depan kantor. Tapi kalau yang dibeli cuma teh dalam kemasan, ya lumayan lah. Jangan ditenggak sekaligus itu minuman seperti baru sprint atau dikejar hansip. Take your time, dan nikmati setiap tegukan. Kacang boleh juga. Pastikan Anda tahu dimana toilet, karena masuk air, pasti keluar air.

3. Makan di darat, bukan di pesawat.
Melewati jam makan? Wuih, pasti memang lama sekali penantian Anda. Makanlah dengan bijak. Jangan terlalu penuh seperti makan di kondangan. Pesan paket yang ringkas tapi cukup berkalori. Ingat, saat di pesawat, Anda sudah ada di ketinggian yang tidak normal bagi manusia pada umumnya. Metabolisme Anda akan terpengaruh. Selera pun biasanya ngikut metabolisme. Saya sering menolak makan di pesawat. Makan di pesawat sudah sangat jelas alasannya bukan karena Anda lapar. Apalagi karena menunya menggiurkan. Sangat tidak benar! Makanan di pesawat diciptakan agar Anda tak mati kebosanan.

4. Jangan jadi public enemy.
Waktu mengantri, jangan nyerobot. Jangan motong antrian. Jangan berperilaku seperti Anda sedang di Terminal Bis Pulogadung atau Blok M. Jadilah orang 'jaim'. Anda tak akan kehabisan tempat duduk. Itu tiket diciptakan untuk Anda bisa duduk dan terbang sampai turun di tujuan.

5. Gak suka gadget, cari pasangan ngobrol.
Teman terbaik saat perjalanan dan penantian Saya ialah smartphone. Tak cukup hanya satu tangan, sekarang pakai qwerty, dan perlu dua tangan untuk bisa engage. Tak bisa satu aplikasi, dua atau lima aplikasi kita buka langsung. Ada kalanya teman berbagi ada di samping kita. Entah kita yang sok akrab, atau dia yang sok akrab. Bersiaplah menjadi mahluk sosial.

6. Tidur kalau gadget dan makanan tak mempan.
Maaf, handphone Anda harus dimatikan. Ya ampun! Di ketinggian ini sudah tak mungkin ada sinyal dan telfon zaman sekarang diciptakan untuk bisa dalam flight mode. Tapi peraturan tetap peraturan, dan bukan ide baik bila Anda berpikir akan menang dalam perdebatan dengan pramugari. Pramugari mungkin bisa Anda kalahkan, tapi pilot dan security service yang mengerumuni Anda akan menjadikan Anda pusat perhatian. It's your choice.
7. Pemandangan ada dimana-mana.
Aww lihat yang baru saja lewat. Aww lagi-lagi lewat. Banyak sekali hiburan yang membuat rasa bosan berubah petualangan. Tapi itu Saya.

No comments:

Post a Comment

Please feel free to update my article since things are changing very quickly.
Silakan kirimkan update dari Anda untuk meningkatkan kualitas info di blog ini.

Trims
angke