Wednesday, October 30, 2013

Agats, Pusatnya Asmat

Tarian-tarian yang dipertontonkan pun usai. Penari kembali ke pojok tempat mereka berkumpul. Saya berdiri tepat di jalan mereka. Saat mereka berlalu, bau yang sudah setahun lamanya, muncul kembali di hidungku. Selamat datang di Papua.

Sanitasi buruk dan air laut yang keruh tak membuat Saya begitu excited saat mendarat. Malaria membayangi setiap langkah hingga seminggu ke depan. Bahkan, bila wabah ini masuk dalam darah, Saya akan membawanya lebih dari seminggu. Tak ada yang mengikat dalam keinginan untuk berlama-lama.

Tapi saat wajah berlukis cat putih, merah bata, dan mahkota dengan bulu-bulu yang menghiasi kepala mereka. Lalu tas kebesaran yang disebut noken menggantung di punggung atau dada mereka, lalu ayunan bulu kasuari yang panjang menghiasi ikat kepala, dan serat pohon sagu yang menjadi rok yang amat tradisional, lalu dada yang telanjang seperti tak ada batas lagi antara tamu dan tuan rumah.. saat itulah Saya merasa di rumah. Saat itu, mereka seperti keluarga.

Pak Alfian membawaku langsung je rumahnya. Ia melangkah mdlalui jalur tak umum. Jalur ke rumah Bupati Yuvensius. Tak disangka, orang yang memandu Saya ke rumah bujang di Ewir, landasan pacu terdekat ke Agats, adalah seorang ajudan Bupati Asmat. Pak Alfian berasal dari Palembang dan langsung menjamu Saya dengan makanan di rumahnya. Nasi putih, sambal nanas khas Palembang, ikan bandeng goreng, dan sayur. Sungguh lezat!

Ia mengenalkan Saya pada cara hidup masyarakat di Agats. Sebuah motor yang melaju, tak ada bunyi walau yakin motir matic itu sehatusnya menderu. Tapi ternyata, karena kebijakan Bupati Yuven, di Agats tak boleh ada motor bermesin. Apalagi mobil. Dari hal itu, langsung Saya tahu, ini unik dari Asmat! Tak ada polusi suara, dan sekaligus polusi udara. Bersih hawa untuk bernafas. Lupa sudah bau badan yang hanya ada karena keringat saat selesai menari. Udara di Agats sungguh tak terpolusi.

Identitas terpenting dari Asmat sudah pasti ukirannya. Pak Erick bilang, saat mengukir, mereka tak bisa melakukan atau berpikir yang lain selain konsentrasi. Bahkan Pak Erick yang saat ini menjadi Ketua Pesta Budaya Asmat 2013 pun memahat sudah dari dulu dan menjadi juri lomba pahat. Pak Alfred dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Asmat bagian pengembangan program mengatakan, bahwa saat mematung, para pemahat tak berbicara. Keyakinan mereka ialah, saat itu roh leluhur sedang berkomunikasi dengan mereka.

Tak hanya seni, patung bagi mereka adalah resonansi dari kehidupan roh yang menjadi bagian hidup mereka sehari-hari.

Sempat di tahun 60an dan 70an, terjadi pemusnahan budaya Asmat. Rumah adat (jew) dibakar, termasuk ritual-ritual yang tadi siang Saya lihat di pelabuhan pun dilarang. Kegiatan ukir mengukir dilenyapkan. Lalu tahun 81 adalah tahun dimana semua halaman kelam mulai dibalikkan. Lomba ukir pertama Asmat digelar okeh keuskupan Agats, di bawah Mgr. Alfons Sowada OSC.

Sore hari Saya melangkah ke Museum Budaya Asmat di Agats. Ratusan koleksi selama 32 tahun disimpan di sana. Bahkan ada seekor buaya besar yang kaki kiri depannya putus. Besar buaya ini sekitar 3 meter, dan pernah ditembak sehingga kakinya putus. Alasan ditembak karena buaya itu sering memangsa warga. Setelah ditembak, buaya ini lepas dan malah semakin marah. Ia terus memangsa manusia di Asmat, dan tahun 2004 akhirnya diburu dan dibunuh warga Agats.

Orang Asmat suka damai. Cinta mungkin kata yang kuat, tapi cocok bagi mereka. Erick, ketua komunitas fotografi Asmat bilang, orang Jepang bungkuk untuk menghormat, dan orang Asmat jauh lebih bungkuk saat menghormat orang, walau nampaknya sedikit menyeramkan. Jadi jangan tertipu dengan apa yang nampak. Anda akan tercengang saat melihat begitu besar hormat mereka, begitu mendalam keahlian mereka.

No comments:

Post a Comment

Please feel free to update my article since things are changing very quickly.
Silakan kirimkan update dari Anda untuk meningkatkan kualitas info di blog ini.

Trims
angke