Saturday, September 28, 2013

Braga Festival, Bandung. -- Ingat, Kau Semua Akan Sirna. Momento Mori!

Setiap orang akan mati. Tapi berapa banyak yang mati tetap 'hidup' ? Hidup dengan panjangnya cerita ide dan gagasan yang menjadi solusi praktis dan mahakarya bagi generasi selanjutnya yang masih bernafas.  Kira-kira itulahnyang ingin disampaikan oleh penyelenggara Braga Festival 2013 yang di gelar hari ini, Sabtu, 28 September 2013 di Jl. Braga, Bandung.

Event tahunan ini memilih highlight pada gelaran seni yang mengingatkan kita pada seniman lawas yang masih nyata karyanya. Ini adala sebuah obituari indah bagi -contohnya- Nike Ardila, Deddy Stanzah, dan Harry Roesli. Selain dalam penampakan karya mereka, didendangkan pula nada-nada abdi mereka. Hari ini hingga Minggu, esok, akan ada Arena Pameran Momento Mori di Braga City Walk, juga Konser Musik Memorial di area Braga Atas atau sekitaran Jl. Suniaraja.

Macet sudah terjadi sejak kemarin. Sebaiknya Anda datang dengan berkelompok dalam satu mobil. Atau gunakan angkot saja hari ini. Motor sudah pasti beribu-ribu banyaknya di sekitaran jalan yang membawa cerita zaman penjajahan dulu, jalan pedati, jalan begal, Braga Weg, dan kini dikenal sebagai Jalan Braga.

Indische Braga Kreatif menyulap Jl. Braga, Jl. Cikapundung Timur, dan Jl. Suniaraja menjadi open-aired mall yang dahulu ingin diciptakan sewaktu pembangunan Braga City Walk. Tak permanen, impian itu diwujudkan saat ini.

Memperingati ulang tahun Kota Bandung ke-203, festival ini dimeriahkan oleh kemeriahan seni suara, seni pertunjukan, seni pameran, fotografi, dan kuliner. Kreativitas tradisional dan kontemporer diadukan dalam event masyarakat Bandung ini. Ditargetkan akan ada kunjungan sebanyak 1,5 hingga 2 juta kunjungan, baik dari warga lokal, Kota Bandung dan sekitarnya, serta wisatawan domestik dan mancanegara!

Momento Mori. Ingat, Kau Semua Akan Sirna. Apa yang bisa kau berikan agar mereka, generasi setelah kita, merasakan hebatnya kehidupan yang kau jalani?

Courtesy foto situasi Braga Fest 2013: www.dlajah.com
T : @dlajahmagz



Friday, September 20, 2013

Senja Pangandaran

Samar. Udara berganti warna. Biru yang membahana melucut dirinya menjadi abu dan beku. Waktu seolah sirna dihisap cakrawala. Mengapa resah saat masih ada kamar yang menunggu dalam keheningan.

Kurasa karena setiap waktu, aku bersama bayangmu yang semakin pudar karena amarah yang semakin terik tanpa keteduhan. Pangandaran yang kukenang sebagai halaman bermain dengan anak-anakku menjadi padang pembantaian rasa.

Aku kehilangan mereka. Yang kau bawa bersama pedih.




Tuesday, September 17, 2013

Pantai Matras dan Parai Green Resort

Kilau keemasan memancar dari bunga rumput ilalang seolah kerudung bagi padang rumput hijau yang terhampar di  sepanjang jalan menuju tepi pantai. Matras adalah nama daerah dengan hamparan pasir pantai yang tak asing bagi warga Pulau Bangka. Berjarak 40 km dari Pangkalpinang atau hanya lima belas menit dari Sungailiat, Bangka, Anda akan berada di simpang jalan akses Desa Sinar Baru menuju hamparan rumput berhias nyiur yang membentang luas.

Matahari awal bulan September hangat menerpa di sore hari. Kilaunya indah menembus awan putih menggumpal. Sunset di Pantai Matras dan Parai bagai trophy untuk pemburuan bagi para fotografer. Sepanjang 3 kilometer, pasir sehalus tepung memisahkan riak ombak dengan karpet rumput alami sejauh puluhan meter. Karenanya, warga dan wisatawan menjadikannya alun-alun alam. Sebanyak apapun pengunjungnya, tak pernah ada kesan padat dan sesak.

Indahnya langit petang hari berhias pasir bersih adalah suguhan fantastis di Pantai Matras. Apalagi bila terus ke Pantai Parai yang berbatu fenomenal, biru dan keemasan langit bersanding batu besar menawarkan bingkai ingatan yang spektakuler.

Warga setempat yang menghabiskan akhir pekan biasanya masuk ke sebuah resort yang juga terbuka untuk umum. Tarifnya hanya Rp 25,000 per orang. Wisatawan dari luar Bangka Belitung, memilih Parai Green Resort, demikian nama yang disandangkan oleh Group El John untuk resort ini, sebagai peresembunyian tenang dan personal.

Tanjung berbatu raksasa telah dikuasai resort ini dengan tujuan baik, yaitu melindungi kawasan indah ini dari pengrusakan. Pemeliharaan di dalam resort ini jauh lebih berkelanjutan dan menggunakan pendekatan go green. Tak heran bila Anda menyusuri pantai di Parai Green Resort yang penuh batuan granit raksasa, sampah tak akan Anda ditemukan. Pengelolaan ini menjadi kekuatan terbesar dari pantai yang dulunya adalah kawasan nelayan pencari ikan.

Di atas tanjung berbatu itu, kini didirikan sebuah resto dan café bernama Rock Island Bar and Grill. Dari bibir pantai, tanjung ini dihubungkan oleh jalan dengan tiang pancang di bawahnya. Berbaur di antara batu granit raksasa, atmosfir di Rock Island menjadi sangat spektakuler saat sunset. Puluhan wisatawan dipastikan menaiki batu raksasa Rock Island untuk mengabadikan moment saat matahari terbenam.

TIPS PERJALANAN
1.       Bangka atau pun Belitung tidak memiliki banyak angkutan umum seperti angkot atau ojek. Biasanya wisatawan harus menyewa kendaraan roda empat atau roda dua. Tarif sewa mobil: Rp 350.000 per hari di luar bensin dan sopir. Biasanya bensin menjadi tanggungan penyewa. Sewa motor berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 200.000, tergantung jenis motor. Disarankan menggunakan jasa supir dengan menambah biaya sekitar Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per hari.
2.       Bensin di Bangka dan Belitung tak begitu mudah didapatkan di SPBU. Di Pulau Bangka, SPBU masih terhitung banyak dan antrian masih wajar. Jangan heran bila SPBU di Pulau Belitung  dipenuhi kerumunan para pembeli. Ya, bukan antrian, tapi kerumunan. Anda sangat beruntung bila di Pulau Belitung mendapatkan bensin tanpa harus mengantri.
3.       Di Pantai Matras, tak banyak jenis makanan berat yang bisa ditemui. Warung makanan yang ada terbatas dari jualan mie instan, makanan ringan instan, dan minuman dalam kemasan. Jagung bakar terkadang ditemui bila Anda beruntung. Jadi, membawa makanan dari tempat Anda bertolak bukanlah ide buruk.