Monday, May 2, 2011

KAMPUNG JERAM: HANYUT DI LEMBAH DUA GUNUNG


By: Anggun Pariwis[Kata] Nugraha, -- Travel Writer & Critics

Setidaknya saya sudah empat puluh jam bekerja dalam seminggu (di luar kerja lembur malam) yang mendesak tekanan darah ke level 140/90. Hari Sabtu sudah selayaknya didedikasikan untuk membuka keran presto yang sesak dengan masalah pekerjaan. Dari Kota Bandung, perjalanan santai di dalam bis ber-AC jadi tempat tidur lanjutan setelah bangun di pagi hari, meluncur melalui satu-dua mimpi bersambung dalam waktu dua jam perjalanan ke Sukabumi.

Sukabumi adalah kota maju yang terisolir blok-blok kemacetan yang meradang. Jaraknya 120 km dari Jakarta, atau 96 km dari Bandung, melewati pemandangan Gunung Gede dan Pangrango. Di dalam kotanya, nuansa kemajuan terasa. Gedung-gedung tinggi belum banyak, namun resto dan café yang modern menandakan orang di kota ini telah biasa makan di luar yang jadi satu indikator tingginya daya beli masyarakat.

Dari dua dekade lalu, kota ini dikenal dengan angkot-nya yang mewah. Masyarakat konvensional pinggiran Sukabumi percaya bahwa memiliki suami atau menantu supir angkot lebih terhormat karena memiliki status ekonomi yang setidaknya mencukupi. Lihat tampilan angkotnya yang fantastik, yang diciptakan bukan untuk mengejar setoran, tapi pengakuan status.

Kira-kira perlu waktu 40 menitan dalam keadaan lalulintas lancar atau sedang, dari Kota Sukabumi ke pertigaan menuju Pelabuhan Ratu sebelum pasar Cibadak yang selalu berjejal padat sentosa. Disana, angkot putih-hijau, biru, dan kuning berseliweran mencari penumpang. Turun di pertigaan ini hanya untuk menyambung ke angkot berikutnya kearah Pelabuhan Ratu. Tapi karena saya ikut rombongan, maka bis terus melaju hingga Warungkiara, Sukabumi.

Pemandangan yang lebih diwarnai lembah pegunungan Gunung Salak dan Halimun mengaburkan waktu melamun saya sekitar 20 menit sebelum bis akhirnya berhenti di tempat parkir umum bis di kawasan Warungkiara yang dikelola PT Riam Jeram yang menaungi sebuah resort di sana. Perbekalan berupa alat mandi dan pakaian cadangan kami bawa dan dilanjutkan dengan angkot yang sama sekali tidak secantik angkot di Kota Sukabumi. Tak lama, si sopir memecut kuda besinya tanpa merisaukan beberapa lubang di jalan yang cukup mulus walau tak semuanya terurus pemda setempat.

Tak heran, lubang seperti itu tak berarti bagi Pak Sopir bila dibandingkan dengan jalan kecil yang mengarah ke Leuwi Lalay, tempat resort berada; Kampung Jeram. Jalannya ekstrim abis. Kondisi ini justru semakin ekstrim saat sopir angkot menghujamkan kakinya di pedal gas mengoyak jalan yang sudah berbatu dan berliku. Jangan tanya bila sopir ini peduli dengan keselamatan kami (pada titik ini, lupakan persoalan kenyamanan).

Jalan sempit dan berbatu dianggap runway pesawat di airport oleh Pak Sopir


Kawan kami yang duduk di depan bersama ‘pak kusir’ yang ‘gila’ bekerja, dan penumpang paling belakang seperti gagal dilontarkan kursi emergensi  pesawat tempur yang tertembak musuh. Berulang-ulang kepala mereka dihentikan oleh atap mobil angkot yang hanya 20 centi di atas ubun-ubun. Ekstrim tenan!

Lima belas menit dalam angkot seperti dijejalkan di mesin cuci selama satu jam. Walau belum pernah mengalami dan merasakan berada dalam mesin cuci, sensasinya terasa betul. Lalu, sebuah belokan penuh angkot yang diparkir nampak di depan dan spanduk oranye bertulisakan Welcome to Kampung Jeram, menghentikan mesin blender beroda empat itu.

Parkiran pertama dimana bis dan sedan harus mau rehat di sini.

Setelah turun dari angkot dan TAK MERASA HARUS berterima kasih pada Pak Sopir yang satu ini, sebuah gerbang yang lebar terbuka menyambut kami. Tak ada staf yang nampak di situ, karena sepertinya mereka sudah sibuk mengatur ramainya pengunjung di desa terpecil yang sukar dibayangkan ada manusia mau hidup di daerah itu. Ketika sebuah lapangan rumput kecil yang asri bagai di dalam halaman buku disain eksterior, ditumbuhi tanaman hias dan rumah bale jineng ala Lombok mencegat pandangan kami kearah gunung berpayung awan gelap, rasa damai terasa. Inilah suasana resort.

Sudah sepatutnya resort itu diciptakan sedemikian rupa, yakni dapat menghilangkan kemarahan, ketegangan, dan kekesalan pada orang tak dikenal di belakang setir kendaraan bernama angkot. Resort adalah haribaan dimana rasa dapat bersimpuh di depan keagungan dan kedamaian hati yang murni. Disinilah orang boleh dan harus berlabuh dimanapun ia inginkan dan merasakan ‘ini adalah hariku’.

Mencoba hanyut sejauh 8 kilo
Pemanasan ringan berupa permainan yang melumerkan kebekuan sesama anggota kelompok pun berlangsung sukses jaya. Tiap orang sudah lupa dengan hari-hari sibuknya, dengan urusan di kantor, dan di rumah. Alam dan rasa sudah menyatu, berpadu dalam harmoni.

Sudah selesai dengan menyematkan helmet dan pelampung basah bekas orang lain di badan sendiri, kami berkumpul di lapangan tempat outbound kecil diselenggarakan para operator yang ramah, lebih ramah dari pekerja resort yang ingin menunjukkan ‘keakuannya’. Tapi keangkuhan orang-orang ‘kasar’ yang selalu bergelut dengan keganasan alam ini, lama-lama terlihat natural dan bukan karena penuh kebencian pada tamu.

Mereka memang terlahir dan dibiasakan tangguh. Sayangnya, di dalam kenyataan dunia industri pelayanan, keramahtamahan dan senyuman adalah indikator pertama secara fisik, bahwa provider pelayanan sudah faham atau belum dengan kebutuhan orang yang datang dalam rangka menghilangkan ketegangan. Jadi ketegangan harus dibalas keramahan, itu intinya.

Setelah dicoba dengan sebuah bentuk komunikasi verbal sederhana –  sapaan dan senyuman –  ternyata mereka berubah wujud menjadi manusia biasa yang terlahir dengan hati dan perasaan. Mereka fasih berbahasa manusia beradab dan tahu bagaimana menjaga kenyamanan berada di antara alam yang liar. Pengalaman mereka meyakinkan kami, dan mengayomi rasa khawatir kami atas ganasnya riam Sungai Cicatih yang berpadu akhirnya dengan Sungai Cimandiri.

Di bawah jembatan berpasak baja yang kokoh, nampak mobil dan motor menyebrang di landasan jembatan yang tersusun dari balok kayu. Jembatan pun bergoyang seperti jelly berbentuk sebuah titian rapuh nan besar. Tapi kami segera manaiki rakit karet merah yang seolah menambatkan dirinya di atas batu sungai dan akhirnya tersapu air ke tengah setelah kami dorong dan naiki. Enam pendayung pun meluncur mengangkatkan dayugnya. “Woohoooo..”.

Tiga ratus meter terasa masih santai sembari kami belajar mencipratkan air dengan dayung aluminium dan plastik. “Kanan dayung!” kata pemandu memekik sambil kami bergegas menghindari batu besar di depan. Tak disadari baju pun sudah becek hingga ke kulit, dan mantra sakti pun dibacakan, “jangan jatuh, jangan jatuh, jangan jatuh!” Hingga teriakan selanjutnya terdengar, “Kiri dayung!

Sungai Cicatih yang lebar tak banyak berbatu di jalur menuju Bantar Kalong,
tapi lumayan bikin kuyup member d'Groove Sport & Wellness Center yang
menaklukan tantangan kegiatan luar ruang ini


Eloknya pemandangan dari tengah Sungai Cicatih yang lebar dan berair tenang tak sama dengan pemandangan dari tepi jalan yang mengikuti bentuk sungai. Dari sini, semua lebih terbuka, lebih jujur, dan rapuh. Sampah di tepi sungai di titik-titik tertentu adalah keterbukaan dari kenyataan masyarakat kita memperlakukan sungai. Tatapan orang desa yang seolah iri adalah kejujuran, dan begitu rapuhnya bangsa kita untuk saling melontarkan ‘aku punya’ dan ‘aku tidak punya’ di dalam hati.

Saya sempat jadi salah satu photographer yang mengabadikan kegiatan mereka, dan juga sempat berada di atas rakit yang hanyut itu. Dari sisi sungai, kehidupan sungguh membosankan, diantara kemiskinan, dan sulitnya bergerak di jalan yang rusak parah. Anak di kota besar sungguh beruntung,  dimanjakan dengan kemajuan infrastruktur. Disini, susahnya pergi dan pulang sekolah, saat berjalan harus di atas batu tajam sebesar sepatu, dan bila hujan tanah menjadi lumpur, dan jatuh dari atas motor bisa bikin orang sangar pun menangis seperti little Missy.

Tapi inilah hidup di lembah gunung yang tak pernah nampak di kota besar. Setiap orang wajar mendapatkan penghargaannya masing-masing. Tanya pada mereka, mengapa mereka memilih hidup di tempat itu. Alasannya tak akan jauh dari hal-hal yang sudah mereka perhitungkan sebab dan akibatnya. Kita semua orang dewasa, dan apapun yang kita lakukan dan kita pilih, ada konsekuensinya.

Merapatlah akhirnya kami di Bantar Kalong, kembali di bawah sebuah jembatan. Ada apa dengan orang-orang ini yang selalu mengawali dan mengakhiri sesuatu di bawah jembatan. Rupanya jembatan selalu dibina dengan meninggalkan pijakan yang aman dan paling stabil tanahnya. Kepuasan di antara beberapa kawan kami yang baru menjajal adrenalin-nya di atas rakit nampak jelas terlihat.

Lagi-lagi, angkot blender sudah menanti (untuk mengocok isi perut) kami. Jalan berbatu yang melintasi beberapa desa antara Bantar Kalong dan Kampung Jeram Resort sungguh luar biasa, lebih luar biasa level tantangannya dari menyusuri sungainya. Tak salah kamipun menyebutkan perjalanan pulang dengan angkot blender ini sebagai ‘arung jalan!’

Perasaan kebersamaan dibagi bersama seolah twitter dalam dunia nyata. Pemandu kami menanyakan perasaan kami setelah rambutnya nampak rapih disisir dan bajunya yang macho gaya Kampung Jeram dikenakan. Untuk terhanyut dalam kedamaian alam, berperahu 8 kilometer masih belum menantang, bagi kami. Tapi ia menyatakan, “Datang lagi ke sini next time, dan kita ambil paket adventure, yang arusnya rada galakan”.

Sehari di Kampung Jeram memang mengasyikan. Kami bisa bersih-bersih di kamar mandi yang nyaman dan resik. Menikmati makanan Sunda yang gurih hingga saya menjilat-jilat sisa makanan di jari. Sambal dan lalapnya pas, ditutup dengan sayur asem yang tidak tahu bagaimana membuatnya, tapi luar biasa rasanya. Tak perlu seorang Bondan Winarno untuk mengomentari lezatnya masakan disini.

Satu hari penuh adrenalin dan inspirasi adalah hal yang saya perlukan. Semoga hal seperti ini dapat selalu berulang dalam tiap bulannya. Mungkin di tempat lain, mungkin dengan cara lain. Terima kasih buat komunitas outdoor d’Groove Sport & Wellness Center Bandung yang sudah mengajak saya mencicipi aliran sungai dan hanyut di antara dua gunung indah di Sukabumi kali ini.

Cara ke Kampung Jeram
Dengan pesawat udara dan kapal laut, tentu sudah tidak mungkin karena tempat ini ada di tengah-tengah pegunungan tatar Sunda. Maka datanglah dari arah Bandung atau Jakarta dengan kendaraan bis atau kendaraan biasa (Jeep, minivan, atau sedan). Motor pun tentu bisa. Arahkan tujuan anda ke Kota Sukabumi.

Bila anda dari Bandung, teruskan ke arah Pasar Cibadak, Sukabumi yang masih menyisakan waktu sekitar setengah jam lebih atau 40 menitan. Jangan sampai anda melewati atau sampai di Pasar Cibadak yang macetnya bisa mengambil waktu anda sekitar 30 menit atau 30 tahun penjara. Di pertigaan yang mengarah ke Pelabuhan Ratu, arahkan kendaraan anda ke sana, segera!

Dari arah Jakarta, mau tidak mau anda memang harus melewati titik-titik kemacetan yang cukup menyita waktu. Maka dari itu, pergi di pagi hari bahkan dini hari. Lewati Ciawi, Cicurug, dan Cibadak yang menjadi titik rawan macet. Saat lepas dari pasar Cibadak, anda akan segera melihat pertigaan dan arahkan kendaraan anda untuk belok ke kanan, ke arah Pelabuhan Ratu.

Di tempat yang bernama Warungkiara, sekitar 20 menitan dari pertigaan tadi, anda akan melihat banyak kendaraan di sebelah kiri. Itulah tempat parkir 1 Kampung Jeram, dimana kendaraan bis dan sedan tidak perlu lagi melanjutkan keinginannya berada di resort Kampung Jeram, karena akan merusak (1) jalan kecilnya, dan (2) kendaraan anda sendiri. Ngerti kan?

Angkot biasanya disediakan oleh pihak Kampung Jeram untuk melanjutkan perjalanan anda. Dan, nikmatilah waktu anda bersama alam Sukabumi yang jauh dari hingar bingar dan kepalsuan kota besar. Di sini, semua asli seperti adanya termasuk kemajuan-kemajuan yang siap-tidak-siap sudah masuk dalam keaslian versi pinggiran kota.

No comments:

Post a Comment

Please feel free to update my article since things are changing very quickly.
Silakan kirimkan update dari Anda untuk meningkatkan kualitas info di blog ini.

Trims
angke