Sunday, April 24, 2011

Waktu Itu Raffles Gak Sempet

Semua tahu, tanah Pulau Jawa sesubur apa. Jangankan kayu, traffic sign pun bila ditancapkan di tempat yang rada-rada sepi, bisa jadi uang untuk beberapa kalangan (setan berwujud manusia). Sesubur itulah Pulau Jawa. Subur dan biadab memang duduk saling bersandaran, terkadang saling menekan. Siapa yang berdiri duluan, yang lain pasti jatuh di atas punggungnya, dengan perasaan tertipu, dan teramat bodoh.

Cukup untuk ulasan sarkastik, dan kembali ke Pulau Jawa yang hijau seperti kumpulan pohon lumut di dalam skala raksasa. Keindahannya memesona dari sudut pandang darat ke laut, ataupun sebaliknya. Sempat terpikir hingga jadi satu obsesi, “Kapan ya saya bisa punya rumah di tepi laut seperti sebuah resort bule yang menghadap ke garis cakrawala tempat tenggelamnya sunset, dan bisa mengusir nelayan miskin yang tersesat saat menangkap ikan kecil?”

Setiap jengkal tanah di tepi pantai sekarang telah berlabel nama seseorang. Harapan akan adanya pembebasan tanah atau khayalan akan datangnya investor dari surga yang hendak membeli seluruh blok benua, pemilik tanah itu tak bergeming pada tawaran pembelian yang harganya masih kelas teri. Saking tak bergemingnya, ia pun tak mengurusnya, hingga lupa bahwa padang ilalangnya yang seperti hutan hujan tropis telah jadi pasar seni dan lapangan parkir yang dipagari warung tenda biru yang warna tendanya lebih biru dari air laut, atau lebih oranye dari tukang parkir. Warna yang  cocok bagi mereka yang peduli terhadap kesenangan diri sendiri dan hanya dirinya sendiri (persis kaya' background blog saya).

Daripada melirik sesuatu yang gak mungkin dibeli, lebih baik melirik sesuatu yang gak mungkin dibiarkan. Suatu hari saya mencoba menyesatkan diri (lagi) ke satu sudut yang tak lazim saya lalui untuk mencapai sepetak tanah keluarga yang tengah dijadikan komplex pesantren dan sekolah kejuruan lengkap dengan mesjid, poliklinik, dan satu bukit yang dijadikan perkebunan dan peternakan. Ternyata sudut yang tak lazim itu menawarkan pemandangan spektakuler dan pengalaman mengusir nelayan miskin yang tersesat. Ini kesempatan BESAR! Nelayan tak boleh lagi diusir. Matahari tak boleh lagi dieksploitasi bule kaya.

Kita lupa, siapa sebenarnya bule-bule ini dahulu, dan siapa kita dahulu hingga kini. Saat seorang juru tulis yang gemar belajar dan berperangai santun (bagi kroninya) dan berkebangsaan Inggris, namanya Thomas Stamford Raffles, duduk di tanah Jawa tahun 1811 hingga 1816, Ia memuji dan memuja bangsa kita (orang Jawa saja sih), sebagai bangsa yang santun seperti dia dan rajin bekerja (tapi tidak rajin belajar). Bule-bule ini sibuk mengatur tanah mana punya siapa, padahal jelas ini punya kita. Kesempatan sajalah (dan kecepatan akal) yang membedakan antara siapa yang menikmati resort di tepi pantai dan siapa yang cepet-cepet mengayuh sampan seperti  saat diusir. Nyatanya, kita tidak menang di keduanya.

Sekarang, saat kita di atas biduk, kita diusir oleh pemilik pulau sementara yang sudah menyewanya selama 100 TAHUN. Katanya kita terlalu dekat dengan pantainya. Saat kita di darat, dulu, kita pun menyerah saat mereka mendekat dan menguasai pulau yang 17.000-an jumlahnya. Makanya, Raffles mencontohkan agar kita belajar giat. Ia menghapuskan system RODI agar energy diarahkan ke otak, bukan ke tangan dan kaki.

Raffles pun menggaji para bupati supaya bupati tak perlu menekan rakyat membayar pajak tanah, dan bisa sekolahin anak cucu ke luar negeri dan kembali sebagai pembela bangsa. Raffles menghapuskan perbudakan, supaya yang ditekankan bukan perintah, tapi inisiatif. Ia pun membolehkan rakyat ikut dagang, supaya bisa bayar SPP, bukan buat beli pulsa atau bayar paket game online. Belum istrinya, Olivia Marianne, merintis ide pembangunan Kebun Raya Bogor, karena mesti ada laboratorium penelitian, bukan ladang garapan yang berpindah dan dibakar-bakar hingga asapnya bikin tetangga gak bisa napas.

Semua yang disentuhnya, menjadi lebih baik. Tidak seperti tangan Belanda, walau akhirnya Raffles pun menyerah pada keputusan di konvensi yang digelar di Eropa.

Di masa pemerintahannya di Pulau Jawa, dari tahun 1811 sampai 1816, Thomas Stamford Raffles tidak hanya berdiri di depan cermin mencermati potongan rambutnya dari sisi kanan dan sisi kiri. Bukan pula ia hanya hang out di Braga, nulis pesan singkat yang ‘gak penting buat disebar di mailing list expat Inggris-nya, yang intinya hanya memberitakan “Lagi nunggu pesenan klappertaart di café Braga Permai. Sebel sama anak kitchen-nya.. lama bangeuts”.

The History of Java ternyata selesai ia rampungkan dan diedarkan tahun 1817 dari hasil keliling-kelilingnya (yang kemudian diformalkan prosesnya sebagai ‘riset etnografis’). Ia mengabadikan kondisi masyarakat Kalang, masyarakat Tengger, bahkan ke Banten, di datarang tinggi Halimun, saat ia dikabari tentang imutnya anak gadis di Baduy.

Tapi saat ia jadi Gubernur Jenderal di Batavia tahun 1814 yang sebelumnya hanya sebagai Lieutenant Governor of Java, ia benar-benar terkesan dengan keindahan tanah Jawa dan masyarakatnya. Di beberapa tempat, ia terapkan pengalamannya di Penang, Malaysia. Tapi belum lagi upayanya selesai membangun Georgetown versi Jawa, ia sudah diperintahkan untuk ngesot ke Singapura. Di sanalah ia akhirnya membangun negeri impiannya.

Kalau ia lihat Cililin, Jawa Barat saat ini dengan hamparan air diantara bukit-bukit yang berlapis-lapis, pastilah ia segera membuat resort dan villa di atasnya, serta mengembangkan masyarakat petani ikan, (bukan pencabut traffic sign) agar memanfaatkan airnya yang sejuk hasil membendung Sungai Citarum yang mengalir dari kampungnya Sangkuriang. Tapi saat itu Raffles gak sempet, karena pembendungan sungai ini agak telat, kira-kira 200 tahunan. Tapi bagusnya, tanah disini tetap milik rakyat, dan digarap sebagai ladang kebun yang harganya masih murah, sehingga bayangan memiliki resort kecil masih bisa terwujud.

Friday, April 22, 2011

It's gonna be All Write..

Passing the last two years, my Lenovo has shown a give-up sign. I don't wish to ditch this useful device, just because there are too many things that remind me of the old man, Pak Tua, a driver of a rent car in Sorong, West Papua, who kept asking me if I needed a ride. "Sir, we are in different time zones right now. So, stop calling me. I will call you when I'm in your town. I'm not sure when, but I will".

Writing a travel journal was a good trick to impress this girl, but now she's my wife. Finding a subject to impress was never meant to come across the crammed schedule pinned down on my wall. But it was good enough to get me through the whole year with a contract with Indonesia.travel. Whom am I to impress? Some good writings come from good impression that becomes the soul in your piece. But the editor said, "Just need a simple description, and you're set for another piece". Okay, that's NOT very impressive.

I have meant to update some of my writings, mostly in Papua, West Papua, Moluccas, and Aceh. Somehow, I never finished all the attractions in West Borneo. Maybe she (the Chinese) was too hot. But I promise I will. Come to think of it, my editor wanted me to write about Aceh. The Saman dancer there smells nice. Much nicer than the smell of Aceh's coffee. So, I ditched the West Borneo Chinese. For a while.

Tour de Singkarak 2011 is underway. My colleague, Rachel, was there to do the on-site reportage. She is now somewhere in the famous down under. At least I have to develop some 9 more articles to submit before the end of May, so the visiting crowds can read them before the D-day on June 6th, 2011. Yes, West Sumatra is vast, and you'll love the mouth-burning Padang food.

It's not like writing about Raja Ampat that captured my heart. West Sumatra is still there to challenge my sensitivity toward beauty. I failed to recognize the true beauty of Ambon, Halmahera, and Banda, as my friend married an Ambonese. The celebrity. But I am happy for them (as they live now in Amsterdam). I will conquer the true beauty of this land, like those Pacu Jawi racers conquer the bulls. I will conquer West Sumatra.

From there, I am up to compose on Sail Indonesia 2011, crossing the seas around Kupang, East Nusatenggara, to Moluccas, Sulawesi' Wakatobi, Lombok's Senggigi, Lovina Bali, Karimunjawa, Tanjung Puting, to Riau Islands, and off to Batam, and Singapore, and ends in Langkawi.







Visitors' Best Practices on Balinese Clothing Etiquette


It is okay to wear an open shouldered clothing like this in Bali, as long as you don't plan to meet
one of those royals in a puri, a royal residence. How you wear your clothing is how you present
yourself in respecting others.



She understands the local culture and her own. She knows
where she plans to go, and therefore, she appropriately dresses up
like so.


In the confinement of a puri, a royal palace, one has to wear something
'polite' to their standard. Here is the best practice to be in one of the puris.


Whether you like it or not, you have to wear one of those sarongs
to cover up a little bit so you can enter the heart of a royal palace.


And yes. They won't let you go unless you buy one or show them that
you already have one. Actually, a simple and polite  'NO' will do.


Like I said, it is okay to wear anything you want, as long as you know where
you are heading. This is in one busy and colorful traditional market in Ubud, Bali.


Don't be afraid to get out. Being prepared in the first place and knowing a little
bit of information about clothing and the local etiquette will make your
trip worthwhile.