Thursday, February 10, 2011

Peliatan Royal Cremation Ceremony 2010 in Bali



A narrow alley is not a dangerous place in Ubud, Bali. It is simply an extension to another hidden paradise from a bigger paradise. A senior backpacker passed the gate of two small homestays, hidden from the bustling street of Monkey Forest.

Traditional costumes come in different colors and patterns. Relatives came from the other side of the village to pay a visit in a preparation of the 9th King's Royal Cremation in Puri Agung Peliatan, Bali.

Cokorda Alit sat under a gazebo or bale bengong, supervising the preparation for the cremation. He was the closest relative to the deceased King. They were playmates in the yesteryear.

Four masks of different characters came in colors. This highly decorated masks are hand-made and especially crafted for the special occasion like the grand cremation. 

Ladies of the palace waited for the core event of the day, the prayer led by a priest. Series of rituals took place and each rite displayed unique purpose and meaningful process.

Mask dance, or locally known as tari topeng, was a tribute to the deceased. It also played an important role in providing enthusiasm and togetherness amongst the plural community members.

Soon after the holly water was extracted with a serious ritual, the family members went back to the palace, so they can put the holly water inside the embracing dragon. A lady turned around, looking for someone mingled in the crowd.



 Meanwhile, in the Ubud market, sellers were anticipating the big buy from waves of tourist influx. Here, handcrafts and local souvenirs were displayed and appreciated. A Balinese lady was walking down the alley guarded by a dancing statue.

Bali has been dubbed as the Land of Gods. As each house must build its own praying area, the island is also known as the land of a thousand temples.

Wayang Kulit or puppet show was played so that the soul was adequately entertained. The story in the puppet show was read from a traditional scripture made of delicate material like papyrus.

The girl from the royal family sat on a royal sedan casting the most refreshing smile, as her elder family members prayed in a holly water temple in a ngening ceremony, the rite of purity.  

Each place has its own offering in Bali. There are thousands of offerings found from the first step of an airport lounge to the deepest rice field in the village, and here, on the sale of a busy traditional market.

Tuesday, February 8, 2011

Raja Ampat Sebelum Dikelola Tangan Asing : 2010

Konon investor dari dua chain hotel besar dunia melirik tawaran pemerintah untuk mengelola kawasan Raja Ampat. Sisi mana dari Raja Ampat, belum jelas juga kepastiannya. Bagian manapun itu, inilah gambaran Raja Ampat sebelumnya.

 Pengembangan Waigeo dengan airport barunya. Beberapa habitat buaya di rawa-rawa sempat terganggu karena muara dibendung. Maka buaya dikabarkan berenang di tepi pantai Waiwo  yang membuat warga enggan berenang sementara waktu.

 Salah satu sudut di Teluk Kabui yang pemandangannya pastilah telah menarik hati investor asing untuk mengelolanya.

Satu pantai di Sawinggrai dimana kami temukan rumah di atas air tengah dibangun untuk keperluan tamu yang datang. Disebelahnya Pak Ce dan Ma Ce, sepasang pemandu, hidup bahagia di atas rumah airnya.


Sawinggrai tepat di mulut jetty-nya yang damai, menghadap lautan lepas. Di Sawinggrai, burung cendrawasih dapat ditemukan di pagi hari dan di sore hari saja. Dua waktu ini menarik wisatawan untuk datang dan mengendap-endap menyaksikan keunikan Raja Ampat di atas air.

Anak-anak di Sawinggrai yang lucu-lucu berpose di depan kamera. Percaya dirinya muncul saat berkumpul besama, walau beberapa diantaranya tetap 'pede' berpose satu-satu.

 Zaka, seorang pemandu kawasan Raja Ampat yang sangat menghibur, juga penuh dengan pengetahuan baik tentang Raja Ampat di bawah air, juga di atas air. Ia menjadi pengemudi kapal cepat Wayag I.
Selebritis nasional biasanya menjadikan ia sebagai pemandu.

Welcome to Homestay Imbefori. Begitulah kira-kira tulisan di sebuah tiang rumah di atas air yang terbuat dari bambu dan kayu beratap alang-alang di Sawinggrai kepunyaan Pa Ce dan Ma Ce. Mereka menjanjikan hari-hari menyenangkan di Raja Ampat, makanan sea food, dan suasana keluarga yang hangat.

 Seperti halnya di Papua secara keseluruhan, golok besar adalah bagian dari perlengkapan seorang laki-laki.

 Arus pantai saat itu sedang sedikit kuat sehingga nampak anak-anak ini tak ada yang turun di pantainya yang dangkal dan bening airnya.

 Sisi lain dari pemandangan di atas rumah air, Imbefori di Sawinggrai, Raja Ampat.

 Suasana petang di Sawinggrai yang tak banyak dikunjungi wisatawan. Memang, untuk ke sini, ke Raja Ampat secara keseluruhan, biaya transportasi menjadi beban terbesar bagi wisatawan asing maupun domestik.
 Zaka bersama Pa Ce membuat papan pengumuman di Sawinggrai. Konsep pengumuman ini dikerjakan Zaka dengan bangganya, dan ditulis oleh Pa Ce dan warganya untuk menjaga kelestarian Sawinggrai, dan Raja Ampat.
Sawinggrai dari lautan Raja Ampat yang tenang dan dalam.

Gong Home, Pembuat Gong Tertua di Jawa Barat


Usianya sudah hampir 300 tahun dan tak pernah pindah satu jengkal pun dari titik itu, Gong Home mempertahankan diri di antara himpitan kesesakan kota dan modernisasi industri musik modern di Indonesia.