Monday, May 2, 2011

KAMPUNG JERAM: HANYUT DI LEMBAH DUA GUNUNG


By: Anggun Pariwis[Kata] Nugraha, -- Travel Writer & Critics

Setidaknya saya sudah empat puluh jam bekerja dalam seminggu (di luar kerja lembur malam) yang mendesak tekanan darah ke level 140/90. Hari Sabtu sudah selayaknya didedikasikan untuk membuka keran presto yang sesak dengan masalah pekerjaan. Dari Kota Bandung, perjalanan santai di dalam bis ber-AC jadi tempat tidur lanjutan setelah bangun di pagi hari, meluncur melalui satu-dua mimpi bersambung dalam waktu dua jam perjalanan ke Sukabumi.

Sukabumi adalah kota maju yang terisolir blok-blok kemacetan yang meradang. Jaraknya 120 km dari Jakarta, atau 96 km dari Bandung, melewati pemandangan Gunung Gede dan Pangrango. Di dalam kotanya, nuansa kemajuan terasa. Gedung-gedung tinggi belum banyak, namun resto dan café yang modern menandakan orang di kota ini telah biasa makan di luar yang jadi satu indikator tingginya daya beli masyarakat.

Dari dua dekade lalu, kota ini dikenal dengan angkot-nya yang mewah. Masyarakat konvensional pinggiran Sukabumi percaya bahwa memiliki suami atau menantu supir angkot lebih terhormat karena memiliki status ekonomi yang setidaknya mencukupi. Lihat tampilan angkotnya yang fantastik, yang diciptakan bukan untuk mengejar setoran, tapi pengakuan status.

Kira-kira perlu waktu 40 menitan dalam keadaan lalulintas lancar atau sedang, dari Kota Sukabumi ke pertigaan menuju Pelabuhan Ratu sebelum pasar Cibadak yang selalu berjejal padat sentosa. Disana, angkot putih-hijau, biru, dan kuning berseliweran mencari penumpang. Turun di pertigaan ini hanya untuk menyambung ke angkot berikutnya kearah Pelabuhan Ratu. Tapi karena saya ikut rombongan, maka bis terus melaju hingga Warungkiara, Sukabumi.

Pemandangan yang lebih diwarnai lembah pegunungan Gunung Salak dan Halimun mengaburkan waktu melamun saya sekitar 20 menit sebelum bis akhirnya berhenti di tempat parkir umum bis di kawasan Warungkiara yang dikelola PT Riam Jeram yang menaungi sebuah resort di sana. Perbekalan berupa alat mandi dan pakaian cadangan kami bawa dan dilanjutkan dengan angkot yang sama sekali tidak secantik angkot di Kota Sukabumi. Tak lama, si sopir memecut kuda besinya tanpa merisaukan beberapa lubang di jalan yang cukup mulus walau tak semuanya terurus pemda setempat.

Tak heran, lubang seperti itu tak berarti bagi Pak Sopir bila dibandingkan dengan jalan kecil yang mengarah ke Leuwi Lalay, tempat resort berada; Kampung Jeram. Jalannya ekstrim abis. Kondisi ini justru semakin ekstrim saat sopir angkot menghujamkan kakinya di pedal gas mengoyak jalan yang sudah berbatu dan berliku. Jangan tanya bila sopir ini peduli dengan keselamatan kami (pada titik ini, lupakan persoalan kenyamanan).

Jalan sempit dan berbatu dianggap runway pesawat di airport oleh Pak Sopir


Kawan kami yang duduk di depan bersama ‘pak kusir’ yang ‘gila’ bekerja, dan penumpang paling belakang seperti gagal dilontarkan kursi emergensi  pesawat tempur yang tertembak musuh. Berulang-ulang kepala mereka dihentikan oleh atap mobil angkot yang hanya 20 centi di atas ubun-ubun. Ekstrim tenan!

Lima belas menit dalam angkot seperti dijejalkan di mesin cuci selama satu jam. Walau belum pernah mengalami dan merasakan berada dalam mesin cuci, sensasinya terasa betul. Lalu, sebuah belokan penuh angkot yang diparkir nampak di depan dan spanduk oranye bertulisakan Welcome to Kampung Jeram, menghentikan mesin blender beroda empat itu.

Parkiran pertama dimana bis dan sedan harus mau rehat di sini.

Setelah turun dari angkot dan TAK MERASA HARUS berterima kasih pada Pak Sopir yang satu ini, sebuah gerbang yang lebar terbuka menyambut kami. Tak ada staf yang nampak di situ, karena sepertinya mereka sudah sibuk mengatur ramainya pengunjung di desa terpecil yang sukar dibayangkan ada manusia mau hidup di daerah itu. Ketika sebuah lapangan rumput kecil yang asri bagai di dalam halaman buku disain eksterior, ditumbuhi tanaman hias dan rumah bale jineng ala Lombok mencegat pandangan kami kearah gunung berpayung awan gelap, rasa damai terasa. Inilah suasana resort.

Sudah sepatutnya resort itu diciptakan sedemikian rupa, yakni dapat menghilangkan kemarahan, ketegangan, dan kekesalan pada orang tak dikenal di belakang setir kendaraan bernama angkot. Resort adalah haribaan dimana rasa dapat bersimpuh di depan keagungan dan kedamaian hati yang murni. Disinilah orang boleh dan harus berlabuh dimanapun ia inginkan dan merasakan ‘ini adalah hariku’.

Mencoba hanyut sejauh 8 kilo
Pemanasan ringan berupa permainan yang melumerkan kebekuan sesama anggota kelompok pun berlangsung sukses jaya. Tiap orang sudah lupa dengan hari-hari sibuknya, dengan urusan di kantor, dan di rumah. Alam dan rasa sudah menyatu, berpadu dalam harmoni.

Sudah selesai dengan menyematkan helmet dan pelampung basah bekas orang lain di badan sendiri, kami berkumpul di lapangan tempat outbound kecil diselenggarakan para operator yang ramah, lebih ramah dari pekerja resort yang ingin menunjukkan ‘keakuannya’. Tapi keangkuhan orang-orang ‘kasar’ yang selalu bergelut dengan keganasan alam ini, lama-lama terlihat natural dan bukan karena penuh kebencian pada tamu.

Mereka memang terlahir dan dibiasakan tangguh. Sayangnya, di dalam kenyataan dunia industri pelayanan, keramahtamahan dan senyuman adalah indikator pertama secara fisik, bahwa provider pelayanan sudah faham atau belum dengan kebutuhan orang yang datang dalam rangka menghilangkan ketegangan. Jadi ketegangan harus dibalas keramahan, itu intinya.

Setelah dicoba dengan sebuah bentuk komunikasi verbal sederhana –  sapaan dan senyuman –  ternyata mereka berubah wujud menjadi manusia biasa yang terlahir dengan hati dan perasaan. Mereka fasih berbahasa manusia beradab dan tahu bagaimana menjaga kenyamanan berada di antara alam yang liar. Pengalaman mereka meyakinkan kami, dan mengayomi rasa khawatir kami atas ganasnya riam Sungai Cicatih yang berpadu akhirnya dengan Sungai Cimandiri.

Di bawah jembatan berpasak baja yang kokoh, nampak mobil dan motor menyebrang di landasan jembatan yang tersusun dari balok kayu. Jembatan pun bergoyang seperti jelly berbentuk sebuah titian rapuh nan besar. Tapi kami segera manaiki rakit karet merah yang seolah menambatkan dirinya di atas batu sungai dan akhirnya tersapu air ke tengah setelah kami dorong dan naiki. Enam pendayung pun meluncur mengangkatkan dayugnya. “Woohoooo..”.

Tiga ratus meter terasa masih santai sembari kami belajar mencipratkan air dengan dayung aluminium dan plastik. “Kanan dayung!” kata pemandu memekik sambil kami bergegas menghindari batu besar di depan. Tak disadari baju pun sudah becek hingga ke kulit, dan mantra sakti pun dibacakan, “jangan jatuh, jangan jatuh, jangan jatuh!” Hingga teriakan selanjutnya terdengar, “Kiri dayung!

Sungai Cicatih yang lebar tak banyak berbatu di jalur menuju Bantar Kalong,
tapi lumayan bikin kuyup member d'Groove Sport & Wellness Center yang
menaklukan tantangan kegiatan luar ruang ini


Eloknya pemandangan dari tengah Sungai Cicatih yang lebar dan berair tenang tak sama dengan pemandangan dari tepi jalan yang mengikuti bentuk sungai. Dari sini, semua lebih terbuka, lebih jujur, dan rapuh. Sampah di tepi sungai di titik-titik tertentu adalah keterbukaan dari kenyataan masyarakat kita memperlakukan sungai. Tatapan orang desa yang seolah iri adalah kejujuran, dan begitu rapuhnya bangsa kita untuk saling melontarkan ‘aku punya’ dan ‘aku tidak punya’ di dalam hati.

Saya sempat jadi salah satu photographer yang mengabadikan kegiatan mereka, dan juga sempat berada di atas rakit yang hanyut itu. Dari sisi sungai, kehidupan sungguh membosankan, diantara kemiskinan, dan sulitnya bergerak di jalan yang rusak parah. Anak di kota besar sungguh beruntung,  dimanjakan dengan kemajuan infrastruktur. Disini, susahnya pergi dan pulang sekolah, saat berjalan harus di atas batu tajam sebesar sepatu, dan bila hujan tanah menjadi lumpur, dan jatuh dari atas motor bisa bikin orang sangar pun menangis seperti little Missy.

Tapi inilah hidup di lembah gunung yang tak pernah nampak di kota besar. Setiap orang wajar mendapatkan penghargaannya masing-masing. Tanya pada mereka, mengapa mereka memilih hidup di tempat itu. Alasannya tak akan jauh dari hal-hal yang sudah mereka perhitungkan sebab dan akibatnya. Kita semua orang dewasa, dan apapun yang kita lakukan dan kita pilih, ada konsekuensinya.

Merapatlah akhirnya kami di Bantar Kalong, kembali di bawah sebuah jembatan. Ada apa dengan orang-orang ini yang selalu mengawali dan mengakhiri sesuatu di bawah jembatan. Rupanya jembatan selalu dibina dengan meninggalkan pijakan yang aman dan paling stabil tanahnya. Kepuasan di antara beberapa kawan kami yang baru menjajal adrenalin-nya di atas rakit nampak jelas terlihat.

Lagi-lagi, angkot blender sudah menanti (untuk mengocok isi perut) kami. Jalan berbatu yang melintasi beberapa desa antara Bantar Kalong dan Kampung Jeram Resort sungguh luar biasa, lebih luar biasa level tantangannya dari menyusuri sungainya. Tak salah kamipun menyebutkan perjalanan pulang dengan angkot blender ini sebagai ‘arung jalan!’

Perasaan kebersamaan dibagi bersama seolah twitter dalam dunia nyata. Pemandu kami menanyakan perasaan kami setelah rambutnya nampak rapih disisir dan bajunya yang macho gaya Kampung Jeram dikenakan. Untuk terhanyut dalam kedamaian alam, berperahu 8 kilometer masih belum menantang, bagi kami. Tapi ia menyatakan, “Datang lagi ke sini next time, dan kita ambil paket adventure, yang arusnya rada galakan”.

Sehari di Kampung Jeram memang mengasyikan. Kami bisa bersih-bersih di kamar mandi yang nyaman dan resik. Menikmati makanan Sunda yang gurih hingga saya menjilat-jilat sisa makanan di jari. Sambal dan lalapnya pas, ditutup dengan sayur asem yang tidak tahu bagaimana membuatnya, tapi luar biasa rasanya. Tak perlu seorang Bondan Winarno untuk mengomentari lezatnya masakan disini.

Satu hari penuh adrenalin dan inspirasi adalah hal yang saya perlukan. Semoga hal seperti ini dapat selalu berulang dalam tiap bulannya. Mungkin di tempat lain, mungkin dengan cara lain. Terima kasih buat komunitas outdoor d’Groove Sport & Wellness Center Bandung yang sudah mengajak saya mencicipi aliran sungai dan hanyut di antara dua gunung indah di Sukabumi kali ini.

Cara ke Kampung Jeram
Dengan pesawat udara dan kapal laut, tentu sudah tidak mungkin karena tempat ini ada di tengah-tengah pegunungan tatar Sunda. Maka datanglah dari arah Bandung atau Jakarta dengan kendaraan bis atau kendaraan biasa (Jeep, minivan, atau sedan). Motor pun tentu bisa. Arahkan tujuan anda ke Kota Sukabumi.

Bila anda dari Bandung, teruskan ke arah Pasar Cibadak, Sukabumi yang masih menyisakan waktu sekitar setengah jam lebih atau 40 menitan. Jangan sampai anda melewati atau sampai di Pasar Cibadak yang macetnya bisa mengambil waktu anda sekitar 30 menit atau 30 tahun penjara. Di pertigaan yang mengarah ke Pelabuhan Ratu, arahkan kendaraan anda ke sana, segera!

Dari arah Jakarta, mau tidak mau anda memang harus melewati titik-titik kemacetan yang cukup menyita waktu. Maka dari itu, pergi di pagi hari bahkan dini hari. Lewati Ciawi, Cicurug, dan Cibadak yang menjadi titik rawan macet. Saat lepas dari pasar Cibadak, anda akan segera melihat pertigaan dan arahkan kendaraan anda untuk belok ke kanan, ke arah Pelabuhan Ratu.

Di tempat yang bernama Warungkiara, sekitar 20 menitan dari pertigaan tadi, anda akan melihat banyak kendaraan di sebelah kiri. Itulah tempat parkir 1 Kampung Jeram, dimana kendaraan bis dan sedan tidak perlu lagi melanjutkan keinginannya berada di resort Kampung Jeram, karena akan merusak (1) jalan kecilnya, dan (2) kendaraan anda sendiri. Ngerti kan?

Angkot biasanya disediakan oleh pihak Kampung Jeram untuk melanjutkan perjalanan anda. Dan, nikmatilah waktu anda bersama alam Sukabumi yang jauh dari hingar bingar dan kepalsuan kota besar. Di sini, semua asli seperti adanya termasuk kemajuan-kemajuan yang siap-tidak-siap sudah masuk dalam keaslian versi pinggiran kota.

Sunday, April 24, 2011

Waktu Itu Raffles Gak Sempet

Semua tahu, tanah Pulau Jawa sesubur apa. Jangankan kayu, traffic sign pun bila ditancapkan di tempat yang rada-rada sepi, bisa jadi uang untuk beberapa kalangan (setan berwujud manusia). Sesubur itulah Pulau Jawa. Subur dan biadab memang duduk saling bersandaran, terkadang saling menekan. Siapa yang berdiri duluan, yang lain pasti jatuh di atas punggungnya, dengan perasaan tertipu, dan teramat bodoh.

Cukup untuk ulasan sarkastik, dan kembali ke Pulau Jawa yang hijau seperti kumpulan pohon lumut di dalam skala raksasa. Keindahannya memesona dari sudut pandang darat ke laut, ataupun sebaliknya. Sempat terpikir hingga jadi satu obsesi, “Kapan ya saya bisa punya rumah di tepi laut seperti sebuah resort bule yang menghadap ke garis cakrawala tempat tenggelamnya sunset, dan bisa mengusir nelayan miskin yang tersesat saat menangkap ikan kecil?”

Setiap jengkal tanah di tepi pantai sekarang telah berlabel nama seseorang. Harapan akan adanya pembebasan tanah atau khayalan akan datangnya investor dari surga yang hendak membeli seluruh blok benua, pemilik tanah itu tak bergeming pada tawaran pembelian yang harganya masih kelas teri. Saking tak bergemingnya, ia pun tak mengurusnya, hingga lupa bahwa padang ilalangnya yang seperti hutan hujan tropis telah jadi pasar seni dan lapangan parkir yang dipagari warung tenda biru yang warna tendanya lebih biru dari air laut, atau lebih oranye dari tukang parkir. Warna yang  cocok bagi mereka yang peduli terhadap kesenangan diri sendiri dan hanya dirinya sendiri (persis kaya' background blog saya).

Daripada melirik sesuatu yang gak mungkin dibeli, lebih baik melirik sesuatu yang gak mungkin dibiarkan. Suatu hari saya mencoba menyesatkan diri (lagi) ke satu sudut yang tak lazim saya lalui untuk mencapai sepetak tanah keluarga yang tengah dijadikan komplex pesantren dan sekolah kejuruan lengkap dengan mesjid, poliklinik, dan satu bukit yang dijadikan perkebunan dan peternakan. Ternyata sudut yang tak lazim itu menawarkan pemandangan spektakuler dan pengalaman mengusir nelayan miskin yang tersesat. Ini kesempatan BESAR! Nelayan tak boleh lagi diusir. Matahari tak boleh lagi dieksploitasi bule kaya.

Kita lupa, siapa sebenarnya bule-bule ini dahulu, dan siapa kita dahulu hingga kini. Saat seorang juru tulis yang gemar belajar dan berperangai santun (bagi kroninya) dan berkebangsaan Inggris, namanya Thomas Stamford Raffles, duduk di tanah Jawa tahun 1811 hingga 1816, Ia memuji dan memuja bangsa kita (orang Jawa saja sih), sebagai bangsa yang santun seperti dia dan rajin bekerja (tapi tidak rajin belajar). Bule-bule ini sibuk mengatur tanah mana punya siapa, padahal jelas ini punya kita. Kesempatan sajalah (dan kecepatan akal) yang membedakan antara siapa yang menikmati resort di tepi pantai dan siapa yang cepet-cepet mengayuh sampan seperti  saat diusir. Nyatanya, kita tidak menang di keduanya.

Sekarang, saat kita di atas biduk, kita diusir oleh pemilik pulau sementara yang sudah menyewanya selama 100 TAHUN. Katanya kita terlalu dekat dengan pantainya. Saat kita di darat, dulu, kita pun menyerah saat mereka mendekat dan menguasai pulau yang 17.000-an jumlahnya. Makanya, Raffles mencontohkan agar kita belajar giat. Ia menghapuskan system RODI agar energy diarahkan ke otak, bukan ke tangan dan kaki.

Raffles pun menggaji para bupati supaya bupati tak perlu menekan rakyat membayar pajak tanah, dan bisa sekolahin anak cucu ke luar negeri dan kembali sebagai pembela bangsa. Raffles menghapuskan perbudakan, supaya yang ditekankan bukan perintah, tapi inisiatif. Ia pun membolehkan rakyat ikut dagang, supaya bisa bayar SPP, bukan buat beli pulsa atau bayar paket game online. Belum istrinya, Olivia Marianne, merintis ide pembangunan Kebun Raya Bogor, karena mesti ada laboratorium penelitian, bukan ladang garapan yang berpindah dan dibakar-bakar hingga asapnya bikin tetangga gak bisa napas.

Semua yang disentuhnya, menjadi lebih baik. Tidak seperti tangan Belanda, walau akhirnya Raffles pun menyerah pada keputusan di konvensi yang digelar di Eropa.

Di masa pemerintahannya di Pulau Jawa, dari tahun 1811 sampai 1816, Thomas Stamford Raffles tidak hanya berdiri di depan cermin mencermati potongan rambutnya dari sisi kanan dan sisi kiri. Bukan pula ia hanya hang out di Braga, nulis pesan singkat yang ‘gak penting buat disebar di mailing list expat Inggris-nya, yang intinya hanya memberitakan “Lagi nunggu pesenan klappertaart di café Braga Permai. Sebel sama anak kitchen-nya.. lama bangeuts”.

The History of Java ternyata selesai ia rampungkan dan diedarkan tahun 1817 dari hasil keliling-kelilingnya (yang kemudian diformalkan prosesnya sebagai ‘riset etnografis’). Ia mengabadikan kondisi masyarakat Kalang, masyarakat Tengger, bahkan ke Banten, di datarang tinggi Halimun, saat ia dikabari tentang imutnya anak gadis di Baduy.

Tapi saat ia jadi Gubernur Jenderal di Batavia tahun 1814 yang sebelumnya hanya sebagai Lieutenant Governor of Java, ia benar-benar terkesan dengan keindahan tanah Jawa dan masyarakatnya. Di beberapa tempat, ia terapkan pengalamannya di Penang, Malaysia. Tapi belum lagi upayanya selesai membangun Georgetown versi Jawa, ia sudah diperintahkan untuk ngesot ke Singapura. Di sanalah ia akhirnya membangun negeri impiannya.

Kalau ia lihat Cililin, Jawa Barat saat ini dengan hamparan air diantara bukit-bukit yang berlapis-lapis, pastilah ia segera membuat resort dan villa di atasnya, serta mengembangkan masyarakat petani ikan, (bukan pencabut traffic sign) agar memanfaatkan airnya yang sejuk hasil membendung Sungai Citarum yang mengalir dari kampungnya Sangkuriang. Tapi saat itu Raffles gak sempet, karena pembendungan sungai ini agak telat, kira-kira 200 tahunan. Tapi bagusnya, tanah disini tetap milik rakyat, dan digarap sebagai ladang kebun yang harganya masih murah, sehingga bayangan memiliki resort kecil masih bisa terwujud.

Friday, April 22, 2011

It's gonna be All Write..

Passing the last two years, my Lenovo has shown a give-up sign. I don't wish to ditch this useful device, just because there are too many things that remind me of the old man, Pak Tua, a driver of a rent car in Sorong, West Papua, who kept asking me if I needed a ride. "Sir, we are in different time zones right now. So, stop calling me. I will call you when I'm in your town. I'm not sure when, but I will".

Writing a travel journal was a good trick to impress this girl, but now she's my wife. Finding a subject to impress was never meant to come across the crammed schedule pinned down on my wall. But it was good enough to get me through the whole year with a contract with Indonesia.travel. Whom am I to impress? Some good writings come from good impression that becomes the soul in your piece. But the editor said, "Just need a simple description, and you're set for another piece". Okay, that's NOT very impressive.

I have meant to update some of my writings, mostly in Papua, West Papua, Moluccas, and Aceh. Somehow, I never finished all the attractions in West Borneo. Maybe she (the Chinese) was too hot. But I promise I will. Come to think of it, my editor wanted me to write about Aceh. The Saman dancer there smells nice. Much nicer than the smell of Aceh's coffee. So, I ditched the West Borneo Chinese. For a while.

Tour de Singkarak 2011 is underway. My colleague, Rachel, was there to do the on-site reportage. She is now somewhere in the famous down under. At least I have to develop some 9 more articles to submit before the end of May, so the visiting crowds can read them before the D-day on June 6th, 2011. Yes, West Sumatra is vast, and you'll love the mouth-burning Padang food.

It's not like writing about Raja Ampat that captured my heart. West Sumatra is still there to challenge my sensitivity toward beauty. I failed to recognize the true beauty of Ambon, Halmahera, and Banda, as my friend married an Ambonese. The celebrity. But I am happy for them (as they live now in Amsterdam). I will conquer the true beauty of this land, like those Pacu Jawi racers conquer the bulls. I will conquer West Sumatra.

From there, I am up to compose on Sail Indonesia 2011, crossing the seas around Kupang, East Nusatenggara, to Moluccas, Sulawesi' Wakatobi, Lombok's Senggigi, Lovina Bali, Karimunjawa, Tanjung Puting, to Riau Islands, and off to Batam, and Singapore, and ends in Langkawi.







Visitors' Best Practices on Balinese Clothing Etiquette


It is okay to wear an open shouldered clothing like this in Bali, as long as you don't plan to meet
one of those royals in a puri, a royal residence. How you wear your clothing is how you present
yourself in respecting others.



She understands the local culture and her own. She knows
where she plans to go, and therefore, she appropriately dresses up
like so.


In the confinement of a puri, a royal palace, one has to wear something
'polite' to their standard. Here is the best practice to be in one of the puris.


Whether you like it or not, you have to wear one of those sarongs
to cover up a little bit so you can enter the heart of a royal palace.


And yes. They won't let you go unless you buy one or show them that
you already have one. Actually, a simple and polite  'NO' will do.


Like I said, it is okay to wear anything you want, as long as you know where
you are heading. This is in one busy and colorful traditional market in Ubud, Bali.


Don't be afraid to get out. Being prepared in the first place and knowing a little
bit of information about clothing and the local etiquette will make your
trip worthwhile.

Thursday, February 10, 2011

Peliatan Royal Cremation Ceremony 2010 in Bali



A narrow alley is not a dangerous place in Ubud, Bali. It is simply an extension to another hidden paradise from a bigger paradise. A senior backpacker passed the gate of two small homestays, hidden from the bustling street of Monkey Forest.

Traditional costumes come in different colors and patterns. Relatives came from the other side of the village to pay a visit in a preparation of the 9th King's Royal Cremation in Puri Agung Peliatan, Bali.

Cokorda Alit sat under a gazebo or bale bengong, supervising the preparation for the cremation. He was the closest relative to the deceased King. They were playmates in the yesteryear.

Four masks of different characters came in colors. This highly decorated masks are hand-made and especially crafted for the special occasion like the grand cremation. 

Ladies of the palace waited for the core event of the day, the prayer led by a priest. Series of rituals took place and each rite displayed unique purpose and meaningful process.

Mask dance, or locally known as tari topeng, was a tribute to the deceased. It also played an important role in providing enthusiasm and togetherness amongst the plural community members.

Soon after the holly water was extracted with a serious ritual, the family members went back to the palace, so they can put the holly water inside the embracing dragon. A lady turned around, looking for someone mingled in the crowd.



 Meanwhile, in the Ubud market, sellers were anticipating the big buy from waves of tourist influx. Here, handcrafts and local souvenirs were displayed and appreciated. A Balinese lady was walking down the alley guarded by a dancing statue.

Bali has been dubbed as the Land of Gods. As each house must build its own praying area, the island is also known as the land of a thousand temples.

Wayang Kulit or puppet show was played so that the soul was adequately entertained. The story in the puppet show was read from a traditional scripture made of delicate material like papyrus.

The girl from the royal family sat on a royal sedan casting the most refreshing smile, as her elder family members prayed in a holly water temple in a ngening ceremony, the rite of purity.  

Each place has its own offering in Bali. There are thousands of offerings found from the first step of an airport lounge to the deepest rice field in the village, and here, on the sale of a busy traditional market.

Tuesday, February 8, 2011

Raja Ampat Sebelum Dikelola Tangan Asing : 2010

Konon investor dari dua chain hotel besar dunia melirik tawaran pemerintah untuk mengelola kawasan Raja Ampat. Sisi mana dari Raja Ampat, belum jelas juga kepastiannya. Bagian manapun itu, inilah gambaran Raja Ampat sebelumnya.

 Pengembangan Waigeo dengan airport barunya. Beberapa habitat buaya di rawa-rawa sempat terganggu karena muara dibendung. Maka buaya dikabarkan berenang di tepi pantai Waiwo  yang membuat warga enggan berenang sementara waktu.

 Salah satu sudut di Teluk Kabui yang pemandangannya pastilah telah menarik hati investor asing untuk mengelolanya.

Satu pantai di Sawinggrai dimana kami temukan rumah di atas air tengah dibangun untuk keperluan tamu yang datang. Disebelahnya Pak Ce dan Ma Ce, sepasang pemandu, hidup bahagia di atas rumah airnya.


Sawinggrai tepat di mulut jetty-nya yang damai, menghadap lautan lepas. Di Sawinggrai, burung cendrawasih dapat ditemukan di pagi hari dan di sore hari saja. Dua waktu ini menarik wisatawan untuk datang dan mengendap-endap menyaksikan keunikan Raja Ampat di atas air.

Anak-anak di Sawinggrai yang lucu-lucu berpose di depan kamera. Percaya dirinya muncul saat berkumpul besama, walau beberapa diantaranya tetap 'pede' berpose satu-satu.

 Zaka, seorang pemandu kawasan Raja Ampat yang sangat menghibur, juga penuh dengan pengetahuan baik tentang Raja Ampat di bawah air, juga di atas air. Ia menjadi pengemudi kapal cepat Wayag I.
Selebritis nasional biasanya menjadikan ia sebagai pemandu.

Welcome to Homestay Imbefori. Begitulah kira-kira tulisan di sebuah tiang rumah di atas air yang terbuat dari bambu dan kayu beratap alang-alang di Sawinggrai kepunyaan Pa Ce dan Ma Ce. Mereka menjanjikan hari-hari menyenangkan di Raja Ampat, makanan sea food, dan suasana keluarga yang hangat.

 Seperti halnya di Papua secara keseluruhan, golok besar adalah bagian dari perlengkapan seorang laki-laki.

 Arus pantai saat itu sedang sedikit kuat sehingga nampak anak-anak ini tak ada yang turun di pantainya yang dangkal dan bening airnya.

 Sisi lain dari pemandangan di atas rumah air, Imbefori di Sawinggrai, Raja Ampat.

 Suasana petang di Sawinggrai yang tak banyak dikunjungi wisatawan. Memang, untuk ke sini, ke Raja Ampat secara keseluruhan, biaya transportasi menjadi beban terbesar bagi wisatawan asing maupun domestik.
 Zaka bersama Pa Ce membuat papan pengumuman di Sawinggrai. Konsep pengumuman ini dikerjakan Zaka dengan bangganya, dan ditulis oleh Pa Ce dan warganya untuk menjaga kelestarian Sawinggrai, dan Raja Ampat.
Sawinggrai dari lautan Raja Ampat yang tenang dan dalam.

Gong Home, Pembuat Gong Tertua di Jawa Barat


Usianya sudah hampir 300 tahun dan tak pernah pindah satu jengkal pun dari titik itu, Gong Home mempertahankan diri di antara himpitan kesesakan kota dan modernisasi industri musik modern di Indonesia.